Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Cerita Mesum Masih Sebatas Kepala Kontol

Viral Cerita Mesum Masih Sebatas Kepala Kontol

 Iklans.com - Sebut saja aku sebagai Lia. Aku masih duduk di sebuah SMU di Yogya kelas 2. Tinggiku sekitar 165 cm dengan berat sekitar 49 kg.

Aku sendiri sebetulnya bukan seorang lesbian. Hanya kenapa, ketika melihat video klip Nafa Urbach yang berjudul ‘Lebih Baik Putus’, mataku langsung tertuju ke kedua payudaranya yang indah. Yang sangat aduhai. Aku merasakan perasaan lain ketika melihatnya. Sejak saat itu sering sekali kulihat video klipnya dan kuperhatikan kedua payudaranya itu.

Tidak itu saja. Pada acara-acara televisi lainnya, yang kuperhatikan pasti kedua payudara pengisi acara cewek. Indah atau tidak. Terutama yang memakai pakaian ketat. Beberapa artis yang kusukai adalah Kris Dayanti, Dian Nitami, Denada, Shanti, AB Three dan beberapa artis lain. Artis dari luar negeri ada Britney Spears, Christina Aguilera, Jennifer Lopez, Alicia Keys, Anastasia, Pamela Lee (yang kedua payudaranya very big) dan beberapa artis lain.


Waktu aku pergi keluar pun, aku juga diam-diam memperhatikan kedua payudara cewek-cewek yang kutemui terutama yang berpakaian ketat. Malamnya sebelum tidur pasti aku masturbasi sampai orgasme sambil membayangkan tubuhku yang telanjang sedang dipermainkan oleh sesama cewek. Sering sekali kubayangkan seorang cewek dari belakang meremas kedua payudaraku yang berukuran 36. Sementara di depanku juga ada cewek lain yang menjilati vaginaku.

Waktu pergi ke warung internet pertama kali sejak video klip Nafa yang menggairahkan, kukopi ke disket semua cerita 17tahun pada bagian sesama wanita. Padahal sebelum itu aku hanya suka membaca bagian konvensional. Itu saja tidak kukopi ke disket. Hanya kubaca di warung internet. Sampai dirumah dari disket kukopi ke komputerku.

Aku punya komputer sendiri di kamarku. Kubaca satu persatu sambil membayangkan aku adalah pelaku dalam cerita tersebut. Aku sudah merasa basah ketika baru membaca satu cerita. Sehingga aku mengunci pintu kamarku dan melepas semua pakaianku. Kulanjutkan membaca sambil sesekali kuremas kedua payudaraku bergantian. Jari telunjukku juga masuk ke vaginaku. Kukeluarmasukkan. Aku mencapai orgasme ketika baru kubaca cerita yang ketiga. Aku hentikan kegiatanku itu. Dan kulanjutkan pada malam harinya sebelum tidur.

Disamping membuka situs 17Tahun2, aku juga membuka situs-situs yang menyediakan rangkaian gambar lesbian gratis. Situs-situs itu kutemukan dengan bantuan seorang chatter yang juga lesbian. Sayangnya aku dikira cowok iseng yang memakai nick cewek dengan masuk ke channel lesbi (yang sengaja kuketik ketika pertama masuk IRC). Padahal aku berharap dari dia supaya sudi menjadi girl friend pertamaku. Sejak saat itu aku juga curiga dengan cewek-cewek yang menjadi teman chattingku. Jangan-jangan mereka adalah cowok iseng. Sehingga aku tidak berani kasih data sebenarnya aku. Paling cuma e-mailku saja yang kuberi.

Pernah ada salah satu ‘cewek’ yang mengajak jumpa darat setelah beberapa kali berkirim e-mail. Kebetulan dia juga dari Yogya. Sebelumnya aku sudah waspada. Kuberikan identitas palsu. Pada waktunya di bawah sebuah pohon di lembah UGM yang kujanjikan untuk bertemu ternyata tidak muncul seorang cewek sesuai dengan ciri-cirinya yang diberikan padaku. Yang ada hanya seorang cowok. Aku yang mengawasi dari jauh menunggu sebentar. Aku berpikiran bahwa dia belum datang atau sudah datang.

Tetapi karena bawah pohon yang kujanjikan dipakai orang lain, dia menunggu di tempat lain. Kulihat di sekitarku ternyata dia tidak ada. Kulihat bawah pohon itu lagi. Cowok itu tidak ada lagi. Beberapa hari kemudian muncul e-mail darinya yang mengatakan kalau aku tidak datang. Kubalas dengan mengatakan kalau aku sudah tahu bahwa dia cowok lengkap dengan ciri-cirinya. Aku juga bilang kalau aku marah sekali dibohongi. Dia membalas lagi dengan kejujurannya bahwa dia cowok dan minta aku tidak marah serta mau menjadi temannya. Itu e-mail terakhir yang tidak kubalas. Aku sudah terlanjur marah.

Kembali ke situs-situs yang kusebut diatas. Rangkaian gambar-gambar itu sebagian yang menarik kukopi juga ke disket untuk kemudian kukopi ke komputerku dirumah. Tiap malam sebelum tidur kulihat gambar-gambar itu sambil bermasturbasi.

Sebetulnya aku mempunyai seorang teman cewek satu kelas yang menarik perhatianku. Lebih besar dari perhatianku pada cewek-cewek lain yang kukenal. Sayangnya dia bukan lesbian dan tidak mungkin jadi lesbian. Dia punya pacar seorang cowok. Dia sering memperlihatkan pahanya yang putih dihiasi bulu-bulu halus ketika duduk di dalam kelas atau di halaman sekolah meskipun rok seragam sekolah yang dipakainya tidak terlalu mini. Lanjut baca!


Heboh! Kisah Ngewe Seorang Lesbi Suka Jilat Anus

Heboh! Kisah Ngewe Seorang Lesbi Suka Jilat Anus

 Topoin.com - Apakah aku seorang lesbian? Ah.. Ini pertanyaan yang tidak akan pernah bisa aku jawab. Pertanyaan ini timbul sejak aku masih duduk dibangku SMA kelas 3, dan berawal ketika aku bermain dirumah kawanku.. Renita.

Waktu itu.. Aku dapat dikatakan sebagai salah satu primadona disekolahku, banyak teman-teman cowokku yang suka padaku.. Tetapi semua kutolak secara halus, bukan karena aku tidak tertarik.. Tetapi aku sudah mempunyai cowok.. Dan cowokku itu sudah kuliah disalah satu PT Negeri.


Dikelas aku duduk sebangku dengan Renita.. Ia berasal dari Jabar, kulitnya putih sama dengan aku, rambut panjang hitam, dengan bentuk tubuh proposional sama dengan aku.. Sekilas orang melihat.. Kami akan disangka kembaran.. Bedanya hanyalah.. Rambut dia belah samping.. Sementara aku pony, selain itu Renita orangnya ceria.. Sementara aku pendiam.

Hari itu.. Hari sabtu, sepulang sekolah kira-kira jam 13, Renita mengajakku untuk bermain dirumahnya.. Karena tidak ada acara.. Akupun menerima ajakan itu..

Dan ini bukan yang pertama kali aku bermain dirumahnya.. Karena sering juga aku dan teman-teman yang lain main kerumah Renita, tetapi hari ini hanya aku saja yang diajak oleh Renita. Rumah Renita termasuk mewah juga.. Maklum karena bapaknya direktur utama disalah satu perusahaan ternama. Setibanya dirumah Renita atau Reni.. Panggilan akrabnya, mengajakku langsung kekamar nya yang berada dilantai dua, memang kamar Reni cukup besar.. Ada meja belajar berikut rak buku, ada seperangkat stereo tape, TV, vCD, dan lantainya beralaskan karpet seluruh ruangan, tempat tidurnya.. Cukup besar.. Aku tidak tahu ukurannya berapa.. Tapi mungkin dapat dikatakan ukuran double bed.. Kali.

Tiba didalam kamar.. Tentunya setelah melepaskan sepatu diluar pintu, akupun langsung duduk diatas karpet..

“Ren.. Ada majalah baru enggak..?” tanyaku.
“Ah.. Belum beli sih” sahutnya.
“Kita karaoke aja yuk.. Mau enggak?” sambung Reni.
“Boleh-boleh aja” sahutku, memang akupun juga senang nyanyi karaoke.

Lalu Reni pun membongkar-bongkar koleksi vCDnya.. Sementara aku duduk bersila memperhatikan apa yang dilakukan Reni, tiba-tiba..

“Oh iya.. Nia.. Ada film bokep nih.. Mau lihat enggak?” serunya,
“Dapat darimana film itu Ren..?” tanyaku balik.
“Tadi pagi gue ambil dari kamar si tony”, sahutnya.. Tony adalah kakaknya Reni.
“Boleh juga deh..” sahutku.

Lalu Reni memuter film itu dan duduk diatas karpet disebelahku, kami sama-sama duduk bersila menghadap TV 21 inch.. Sembari menyender ke ranjang. Selama menonton film bokep itu.. Kami sering tertawa cekikikan.. Tidak tahu apa yang lucu.. Mungkin hanya untuk menetralkan suasana aja.. Karena jujur aku terangsang juga melihat adegan dalam film bokep itu.

Ketika ada adegan lesbian dalam film.. Kami berduapun jadi terdiam.. Dengan mata mengarah kelayar TV, ketika kulirik.. Ternyata Reni pun jadi serius melihat adegan demi adegan dalam film itu..

Aah.. Uhh.. Ahh..

Terdengar rintihan dari dalam TV.. Diam-diam aku pun mulai gelisah.. Entah kenapa aku menjadi sangat tertarik sekali melihat adegan lesbian itu.. Sebentar-bentar aku meluruskan kedua kakiku.. Lalu bersila lagi.. Sementara Reni pun juga tampak mulai gelisah.. kadang-kadang dia memiringkan badannya kesamping.. Dan ketika aku bersila lagi.. Tanpa sengaja lututku menyentuh lutut Reni.. Tetapi Reni diam saja.. Dari sudut mataku aku dapat melihat Reni semakin serius menontonnya.

Tiba-tiba.. Reni membetulkan letak duduknya dan bahu kamipun saling bersinggungan. Aku diam saja.. Tidak lama kemudian.. Reni menaruh tangannya diatas pahaku, aku sedikit tersentak kaget.. Aku melirik ke arah Reni.. Tampak dia masih tetap asyik menonton.. Lanjut baca!


Cerita Dewasa Serbuk Merah Keperawan Ayu

Cerita Dewasa Serbuk Merah Keperawan Ayu

  Tradingan.com - “Yah, kita terlambat deh, Yu.” keluh Dinda.

“Sudah lewat lima menit nih”, Ayu langsung lunglai.
Kuliah pertama hari ini dosennya killer banget, namanya Pak Sundjoto. Ia benar-benar takut sama Pak Sundjoto. Namanya saja sudah Sundjoto, bagaimana senjatanya. Finally, mereka harus bolos kuliah. Itu lebih baik, daripada mereka harus dihukum menyalin tugas statistik tujuh kali.
“Ya udah deh, aku mandi dulu. Kau juga Din, nanti masuk angin” kata Ayu sambil segera masuk ke kamarnya dengan lemas.


Dinda benar-benar merasa bersalah. Seharusnya ia tak terlalu lama memilih-milih bra tadi, tapi Dinda memang paling senang pilih-pilih underwear. Bisa dikategorikan bahwa Dinda seorang kolektor underwear. Akibatnya mereka harus mengejar waktu menembus hujan yang cukup deras, tapi nyatanya tetap harus terlambat. Untuk menebus kesalahannya itu Dinda memasakkan mie goreng untuk Ayu. Ayu gemar banget sama mie goreng, dan itu merupakan senjatanya untuk meminta maaf kepada Ayu.

Dinda tak peduli kedinginan. Tanpa harus mandi dulu, ia sudah menggorengkan mie untuk Ayu. Lalu Dinda segera membawa mie goreng “made in” dirinya ke kamar Ayu. Ayu kaget ketika Dinda tiba-tiba masuk ke kamarnya begitu saja. Pasalnya Ayu belum selesai memakai bajunya. Ia masih bertelanjang dada. Untung bagian paling sensitifnya sudah ‘diamankan’ sebelum Dinda masuk tadi.

Dinda juga tak kalah kagetnya. Ia sampai terbengong-bengong memandangi pemandangan indah yang terhampar di depan matanya. Kedua bukit kembar Ayu membusung di depannya. Sekal membulat sedikit berlebihan untuk tubuhnya yang agak kurus. Kedua bola mata Dinda yang bening nanar memandangi kedua daging kecil coklat kemerah-merahan yang bertengger di kedua ujung bukit kembar itu. Darah Dinda bagai disiram air hujan, dingin menggigil. Ia terbayang beberapa adegan blue film yang pernah ditontonnya.

Hujan semakin deras di luar. Petir mengelegar memekakkan telinga. Dinda tersentak mendengarnya.
“Ah, maaf Yu. Aku tak sengaja. Ini mie goreng untukmu. Makanlah selagi hangat,” kata Dinda sedikit gugup.
Diletakkannya sepiring mie goreng itu di meja rias. Dinda segera berbalik hendak pergi tapi urung karena Ayu memanggilnya.

“Din, aku masuk angin. Kamu mau kerokin kan aku?” pinta Ayu.
Mulanya Dinda ingin menolak. Dia takut birahinya muncul dan salah tempat karena Ayu dan Dinda sejenis. Tapi melihat wajah memelas Ayu, perasaan bersalah Dinda kembali muncul. Bagaimanapun juga Dinda yang menyebabkan Ayu jadi masuk angin. Akhirnya Dindapun bersedia menuruti permintaan Ayu.

“Sebentar aku ambilkan balsemnya,” ujar Dinda segera keluar kamar Ayu.
Tapi ternyata Ayu menyusul Dinda. Ayu berfikir di kamar Dinda juga tidak apa-apa, sama saja. Maka dengan hanya mengenakan CD-nya Ayu masuk ke kamar Dinda. Tentu saja Ayu tidak perlu khawatir karena mereka hanya berdua di rumah itu saat ini.

“Disini saja, Din.” kata Ayu membuat Dinda terkejut tak menyangka Ayu akan menyusul ke kamarnya.
Ayu menelungkupkan badannya diatas ranjang. Kemudian Dinda duduk di tepi ranjang untuk mulai mengerokin kulit punggung Ayu. Tapi niat itu urung dengan tiba-tiba. Jemari Dinda menyentuh kulit punggung Ayu sekilas. Kulit punggung Ayu halus sekali.

Punggung Ayu yang agak kecoklat-coklatan nampak belang di bagian yang biasa tertutup tali bra. Tanpa sadar Dinda menyentuhkan jari telunjuknya menyusuri bagian punggung Ayu yang belang itu. Dari punggung atas teruuss menyamping. Ayu yang merasa kegelian membalikkan badan. Pada saat itulah tanpa sengaja jari telunjuk Dinda menyentuh payudara kiri Ayu.

“Kenapa, Din?” tanya Ayu sedikit mengatupkan mata menahan rasa merinding di tubuhnya.
“Kulitmu halus sekali.”ujar Dinda dengan nafas tersendat.
Mata Dinda kembali tertuju pada bukit kembar yang terpampang di depannya.
“Milikmu besar sekali.” lanjut Dinda.
“Kamu sudah pernah ML (make love) ya?”
“Siapa bilang? Ini keturunan.”, jawab Ayu sambil sedikit mengangkat bukit kirinya ke atas, bagaikan menantang setiap tangan untuk memegangnya.

Birahi Dinda yang mulai terbakar dan imbas dari kehujanan tadi membuat Dinda menggigil. Kemudian dilepaskannya kaosnya yang sudah agak kering. Tersembulah dua bukit kembar Dinda yang masih terbalut kain bra. Dua bukit yang sebenarnya agak kecil itu terlihat lebih besar dari ukuran sebenarnya karena menegang menahan birahi Dinda yang mulai meluap. Entah mengapa Ayu menjadi senang ketika Dinda melepas kaosnya. Lanjut baca!


Viral Kisah Ngewe Tukang Servis AC

Viral Kisah Ngewe Tukang Servis AC

  Iklans.com -  Aku hidup sendirian, dengan cara yang jauh lebih sederhana daripada ketika masih bersama orang tuaku. Sebagian besar gajiku habis untuk makan sehari-hari dan membeli pakaian. Sewaktu masih tinggal bersama keluarga, aku tidak begitu peduli dengan pakaian, sehingga tak banyak membelinya. Kini, setelah bekerja, aku memerlukan pakaian-pakaian yang sesuai. Selain itu, aku juga mulai menata masa depan: aku sekolah lagi, kursus bahasa Inggris. Setiap akhir bulan, hanya sedikit yang bisa kusisakan untuk menambah tabungan.

Paviliun tempat tinggalku tertata apik. Ada satu kamar tidur, dapur kecil, kamar mandi dan ruang tamu. Sepi sekali rasanya hidup sendirian pada bulan-bulan pertama. Tetapi entah kenapa, aku menyukai kesendirian itu. Terlebih lagi, baru kali ini aku merasa mengurus diriku sendiri, setelah sejak lahir diurus orang lain. Bahkan semasa remaja sampai menikah pun hidupku selalu diintervensi orang lain. Kini aku bebas, dan ternyata melegakan!

Kehidupan seks-ku kini muncul kembali, setelah lama tak tersentuh. Aku tidak mempunyai teman khusus pria, dan perlahan-lahan kebutuhan seks kupenuhi secara mandiri. Betul-betul lengkap rasanya kesendirianku, tak ada suami pemberi nafkah, tak ada laki-laki pemuas dahaga birahi. Semuanya kujalankan sendiri saja.

Jika birahiku datang, pada saat sendirian menonton televisi, aku akan menutup semua korden. Volume TV kubesarkan, lampu kumatikan. Duduk di sofa, kuangkat kedua kakiku, bersandar santai ke jok yang empuk. Di dalam rumah, aku tak pernah memakai pakaian dalam, dan daster longgar adalah satu-satunya pembalut tubuhku. Dengan kaki terkangkang dan mata setengah terpejam, aku menikmati tangan dan jariku sendiri.

Aku biasanya mulai dengan mengelus-elus daerah sekitar kewanitaanku yang terasa hangat. Telapak tanganku dengan ringan menekan-nekan bagian atas, tempat bulu-bulu halus yang menghitam lebat. Pada saat seperti itu, kedua tanganku aktif di bawah sana. Yang satu mengusap-usap bagian atas, yang lain meraba bibir-bibirnya, menguak sedikit dan menyentuh-nyentuh bagian dalam yang cepat sekali menjadi basah. Dengan pangkal ibu jari, kutekan-tekan pula klitoris-ku, yang selalu tersembunyi di balik kulit kenyal. Aku sering mendesis nikmat setiap kali klitoris itu seperti tergelincir ke kiri ke kanan akibat perlakuan tanganku. Dengan cepat, rasa hangat menyebar ke seluruh tubuhku, dan cairan-cairan cinta terasa merayap ke bawah, ke liang kewanitaanku.

Mataku akan terpejam, menikmati kegelian itu. Kadang-kadang aku membayangkan almarhum kekasihku, tetapi akhir-akhir ini semakin sulit rasanya. Aku lebih mudah membayangkan sembarang pria, atau bintang film pujaanku, atau sama sekali seorang yang tak pernah kutemui. Seseorang yang hanya ada dalam khayalanku.

Tak berapa lama, bibir kewanitaanku terasa menebal, dan saling menguak seperti bunga yang merekah. Dengan jari tengah dari tangan yang lain, kutelusuri celah-celah kewanitaanku. Aku tidak pernah memelihara kuku hingga panjang, karena selain menghalangiku mengetik dengan cepat, juga karena aku malas merawatnya. Tanpa kuku, jari tengahku dapat leluasa menimbulkan geli dan gatal di bawah sana. Turun ke bawah, sampai mendekati lubang pelepasanku, lalu naik lagi, melewati liang senggamaku yang mulai berdenyut-denyut lemah, melewati lubang air seni, terus.. naik lebih tinggi, bertemu telapak tanganku yang lain yang masih mengusap-usap klitoris-ku. Oh.. betapa nikmat permainan yang perlahan-lahan dan sepenuhnya dalam kendaliku ini. Terkadang jauh lebih nikmat daripada dilakukan orang lain!

Lama-lama, aku tak tahan lagi. Sekaligus dua jari kumasukkan ke dalam liang kewanitaanku. Aku memutar-mutar kedua jari itu di dalam, agar dinding-dinding kewanitaanku mendapat sentuhan-sentuhan. Mula-mula sentuhan itu cukup ringan saja. Tetapi lalu aku mulai mengerang, karena geli-gatal semakin memenuhi seluruh tubuhku, dan rasanya ingin digaruk dan diurut di bawah sana. Terutama di dinding bagian atas, tempat sebuah bagian yang sangat sensitif, entah bagian apa namanya. Bagian itu membuat tubuhku mengejang jika tersentuh jari. Ke sanalah jari tengahku menuju, mengurut-urut dan menekan-nekan. Semakin lama semakin cepat dan keras. Aku bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulku, membuat posisi dudukku semakin terkangkang. Baca selengkapnya!


Kisah Ngentot Gadis Seks Dibalik Kamar WC

Kisah Ngentot Gadis Seks Dibalik Kamar WC

 Iklans.com - Pada waktu itu aku masih duduk di SMP kelas II, pernah terjadi kejadian yang sangat mengasyikan dan lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, aku termasuk anak yang cukup nakal dan sekolahku itu pun merupakan sekolah yang banyak menampung para anak-anak nakal, sehingga tanpa kusadari aku pun bisa dibilang lumayan lebih banyak nakalnya dari pada baiknya.

Saat itu ada seorang teman sekelasku yang bernama Ika. Ika memang cewek yang paling dekat dengan cowok dan terkenal paling bandel juga nakal. Tidak jarang teman-teman pun menyimpulkan bahwa dia cewek binal, karena dia berpenampilan agak seronok dibandingkan teman-temannya, yaitu dengan baju sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan hanya diikat antar ujung kain dan menggunakan rok yang sangat minim dan pendek, yaitu satu telapak tangan dari lutut. 


Ika seorang gadis yang cukup manis dengan ciri-ciri tinggi yang pada waktu itu sekitar 160 cm, berat badan 45 kg dengan kulit putih serta bentuk wajah yang oval. Ika memiliki rambut sebahu, hitam tebal, pokoknya oke punya tuh doi.

Setelah bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, semua murid-murid masuk ke kelas. Tetapi anehnya, empat anak yang terdiri dari 3 cowok dan 1 cewek itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari WC, dan sepertinya terjadi kesepatan diantara mereka. Setelah pelajaran kedua selesai, teman-teman cowok yang bertiga itu meminta ijin keluar untuk ke WC kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga.
Di dalam hatiku aku bertanya, “Apa yang akan mereka perbuat..?”

Tidak lama setelah teman-teman cowok meminta ijin ke WC tadi, malah Ika pun meminta ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang lumayan boring. Rasa penasaranku makin bertambah dan teman-temanku juga ada yang bertanya-tanya mengenai apa yang akan mereka perbuat di WC. Karena aku tidak dapat menahan rasa penasaranku, akhirnya aku pun meminta ijin untuk ke WC dengan alasan yang pasti. Sebelum sampai di WC kulihat teman-teman cowok kelasku yang bertiga itu kelihatannya sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian terlihat Ika menuju tempat teman-teman cowok tersebut dan mereka bersama-sama masuk ke kamar WC secara bersamaan.

Rasa penasaranku mulai bertambah, sehingga aku mendekati kamar WC yang mereka masuki. Terdengar suara keributan seperti perebutan makanan di ruangan tersebut. Akhirnya aku masuk ke kamar WC, secara perlahan-lahan kubuka pintu kamar WC yang bersampingan dengan kamar WC yang mereka masuki, sehingga percakapan dan perbuatan mereka dapat terdengar dengan jelas olehku.
“Hai Tun, Sep, siapa yang akan duluan..?” tanya Iwan kepada mereka.
Dijawab dengan serentak dari mulut Ika seorang cewek, dia menjawab dengan nada menantang, “Ayo.., siapa saja yang akan duluan. Aku sanggup kok kalaupun kalian langsung bertiga..!” Lanjut baca!


Cerita Ngentot Gadis Seks Empat Lawan Satu

Cerita Ngentot Gadis Seks Empat Lawan Satu

 Iklans.com - Yanti, sebut saja demikian, sudah tiga minggu kami saling berbagi kebutuhan biologis. Yanti adalah wanita berusia 25 tahun dengan tinggi 160 cm, dan dengan dada yang amat besar 36B ukurannya, kulit putih, dengan wajah mirip wanita bangsawan.

Hubungan kami berawal pada sebuah pesta pertunangan rekan bisnis saya, aku kenalan dengannya dan menjadi akrab dengannya bahkan aku menawarkan untuk pulang bersama karena dia bosan untuk berada disana karena dia telah ditinggal oleh temannya. Yanti pun naik ke mobilku, dia tidak keberatan dengan itu, malam itu suhunya terasa amat dingin, walaupun AC sudahku matikan tapi masih terasa dingin aku juga tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu, akhirnya aku pinjami jasku untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai gaun putih itu.


Bagiku Yanti malam itu terlihat sexy dengan gaun yang dipakainya, dia memakai gaun putih tanpa lengan, dan bra hitam yang menunjukkan kemolekan tubuhnya. Dan rambut panjangnya yang terawat dibiarkan tergerai dengan bebasnya.

Karena perutku masih terasa lapar, tadi aku cuma makan sedikit karena keasyikan ngobrol dan menikmati tubuhnya yang sexy dan bahenol itu, kuajak dia makan di sebuah restoran tapi dia menolak karena dia dirumah telah masak, jadi aku diminta untuk makan ditempatnya saja, dalam hati, ini cewek baik banget selain dia sexy dan bahenol tapi juga baik hati, setelah aku berpikir lama akhirnya aku setuju.

Singkat cerita kami sampai di rumah kontrakannya dan makanlah aku disana, selesai makan aku membereskannya, lalu dia mengajakku kekamarnya untuk menemaninya malam itu, padahal aku ingin pulang karena jam sudah menunjukkan jam 00.30. Aku mencoba untuk menolak tapi karena dia terus memohon untuk menemaninya, dan akhirnya aku pun mengiyakannya karena aku juga tidak tega kalau dia terlalu memohon kepadaku.

Kamarnya terlihat rapi dan bersih semuanya tertata rapih sekali, ya, maklum kamar cewek. Dia mengontrak untuk berempat dan teman-temanya kebetulan saat itu lagi pada keluar, maklum saat itu adalah malam minggu. Singkat cerita, dia bercerita padaku bahwa dia baru putus sama pacarnya karena cowoknya kepergok telah berbuat perselingkuhan dibelakang dia. Diapun menangis mengenang masa lalu yang teramat indah bersama sang pacar dan sekarang hanyalah tinggal kemalangan belaka dan aku coba untuk memberanikan diriku untuk memeluknya dan menenangkannya, Yanti tak menolaknya.

Setelah agak tenang, kubisikan dia bahwa malam ini kamu kelihatan cantik sekali. Yanti tersenyum dan menatapku sangat dalam, lalu aku cium bibirnya yang hangat itu dan dia membalas ciumanku dengan sangat ganasnya, lalu tangannya mulai mencari dimana adik kecikku bersembunyi. Akhirnya dia mendapatkannya dan meremas dengan lembutnya.

Kamipun berciuman dengan sangat ganasnya lalu aku mulai mencium lehernya, Yantipun mendesah, Lanjut baca!


Kisah Seks Misteri Malam Jumat

Kisah Seks Misteri Malam Jumat

 Topoin.com - Aku terbangun dari tidurku, tanganku terasa kesemutan dan kaku, kakiku seperti susah digerakkan. Kucoba menggerakkan tanganku, ternyata tanganku terikat erat kebelakang, kucoba melepaskan diri dengan menggerakkan pergelangan tangan, rasa nyeri menyelimuti seluruh pergelangan tanganku, aku berkesimpulan, tanganku diikat dengan tali pramuka putih.


Sejenak aku berusaha melihat ke sekujur tubuhku di tengah kegelapan, aku melihat tali putih itu melilit melingkar di payudaraku, yang aku tahu pasti, aku masih berbusana lengkap, blus berkerah shanghai warna hitam tanpa lengan dengan kancing kancing warna perak yang berbaris dari ujung leherku hingga kebawah, terlihat kontras karena ada tali putih melintas atau tepatnya meliliti payudaraku bagian atas dan bawah.

Rok 10 cm dari lutut masih kukenakan, lalu kurasakan sepatu masih membungkus di kakiku, sepatu pemberian kekasihku, warnanya hitam, haknya 7 cm dengan model seperti pantofel dengan tali tipis dari karet yang melintang di pergelangan kaki. Kucoba gerakkan kakiku, oh ternyata terikat erat jadi satu. Sadarku mulai pulih sedikit demi sedikit, aku sedang terduduk, kucoba ayunkan kakiku, “Ough!”
Ternyata kakiku terikat dan kemudian diikatkan kembali ke kaki kursi, praktis tak bisa kugerakkan saking kencangnya ikatanku.
“Ugh.! ugh.!”
Aku mencoba menggerakkan badanku, tidak berhasil. Tubuhku terikat melalui dada ke lenganku, kemudian diikatkan pula ke sandaran kursi, jadi aku terikat dulu lalu diikatkan ke kursi. (bayangkan iklan close-up edisi penculikan, seperti itulah aku,)

Lalu aku mencoba berteriak minta tolong, yang kudengar suaraku adalah,
“Mmh, mmh,”
Ternyata mulutku disumbat dengan lakban, dari kegelapan dan daya rekatnya aku tahu ini lakban perak yang sering aku lihat dalam film-film. Seribu pertanyaan menyerbu benakku,. Aku berusaha mengumpulkan ingatanku atas kejadian yang terjadi sebelumnya.
“Ada apa dengan diriku?” hatiku bertanya-tanya sambil berpikir keras.
Oh, baru kuingat sekarang, tadi malam aku baru saja menyelesaikan tugasku di hotel hingga jam sebelas malam. Papi (suamiku) sedang bertugas ke Singapore, baru saja berangkat paginya, dia baru akan kembali minggu depan.

Kuingat-ingat lagi apa yang terjadi, malam itu aku menjamu teman-teman (tamu lebih tepatnya) dari sebuah stasiun TV, tepatnya sebuah rumah produksi yang krunya kebetulan mengadakan ‘shooting’ di kotaku dan menginap di hotel tempatku bekerja. Kami bercanda riang malam itu, lalu aku bersama-sama mereka melanjutkan dengan dugem ke Hard Rock Café di Kuta. Kemudian ingatanku terbayang saat GMku yang hari itu tidak masuk karena karena tensinya agak tinggi, mengirim SMS untuk langsung pulang saja jam sebelas malam dan terus menerus memastikan bahwa aku segera pulang.

“Nggak baik cewek kaya kamu masih ada di hotel sampai lewat jam sebelas!”
Begitu pesannya di SMSnya ditengah malam, hampir jam 24, yang aku tidak hiraukan karena kupikir aku sedang seru-serunya ngobrol dengan orang-orang TV itu. Kembali kuaktifkan ingatanku, belum pulih seutuhnya, yang aku ketahui kini, sesadarku dari tidurku, aku tahu bahwa aku sedang duduk terikat lengkap hingga sedikitpun tidak bisa bergerak. Wajib baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia